Masjid Al Fuqon Jua-Jua Banyak Menyimpan Sejarah Perjuangan

  • Bagikan

Rumahberita.co.id, OKI— Saat melintas di Jalan Abung Bunga Mayang Kelurahan Jua-Jua Kecamatan Kayuagung, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) Sumatera Selatan, kita akan menemukan sebuah bangunan Masjid dengan bentuk atap berciri khas Mustaka bertingkat.

Menurut catatan sejarahnya masjid tersebut didirikan sejak Tahun 1840-1915-1936 di prakarsai oleh Al Mukarammah Al Haji Hassan Chotib bergelar Tande Imam dan Al Mukaromah Al haji Munggah bergelar Raden Bangse Kramat. Kedua tokoh ini adalah keturunan dari Tuan Djimat yang kebetulan keduanya memiliki hubungan besan (Besanan).

Kembali ke bangunan Masjid yang selanjutnya deberi nama Al-Furqon, sebuah nama yang dikutip memiliki arti yakni “Pembeda” dan juga menjadi nama lain dari Al-Quran, ternyata tidak hanya memiliki keunikan pada bagian atapnya saja, masjid tersebut juga dihiasi ornamen yang mengandung filosopi dan catatan sejarah.

Adapun ornamen yang menghiasi setiap ujung atap (Semelayung) masjid itu terlihat berbentuk ombak samudra, lalu di bagian bawahnya juga dihiasi ornamen berbentuk seperti baling-baling kapal. Sementara hiasan di bagian tawing layar tampak menggambarkan kemudi dan dayung kapal. Selanjutnya di bagian dalam berdiri kokoh puluhan tiang penyangga berbahan kayu utuh dengan 4 buah tiang utama.

Baca Juga =  Cegah Penyebaran Covid-19, Pemkab Lambar Pasang Scan QR di Empat Titik

“Jika kita cermati dan kita simpulkan, Masjid ini mengistilahkan sebuah bahtera. Mungkin bermaksud bahtera yang membawa kehidupan umat beragama, “tutur Husin dan Yanto warga Keluarahan Jua-Jua yang notabene darah keturunan dari Haji Hassan Chotib dan Haji Munggah, ketika di kunjungi di kediamannya di rumah Limas Tua berada tepat di belakang Masjid tersebut, Rabu (27/7/22).

Seraya berbincang dan diajak melihat detail setiap sudut bangunan masjid bersama Ketua Pengurus Masjid Al Furqon, Drs. H Syaiful Ardand, didampingi Husin beserta Yanto, media ini diceritakan tentang sejarah berdirinya masjid Al Furqon tersebut.

Diceritakan Syaiful Ardand, dimasa keemasan Kesultanan Palembang Darussalam telah berdiri masjid kecil (Surau) di bantaran sungai tepat di depan masjid ini sekira Tahun 1823.

“Tidak hanya menjadi tempat beribadahnya seluruh masyarakat Kayuagung dari 9 marga yang ada, di masa itu, masjid tersebut juga menjadi tempat berkumpul para pejuang kemerdekaan guna menghimpun rencana untuk menghalau penjajah, “kata dia.

Juga tak kalah penting, masih menurutnya masjid tersebut juga menjadi tempat terakhir diadakannya rapat persiapan kemerdekaan yang semestinya jatuh pada tanggal 17 Agustus 1945, namun karenakan keadaan saat itu berita atau informasi kemerdekaan agak terlambat karena semua media radio masih dikuasai oleh penjajah.

Baca Juga =  Pemkab OKI Siapkan 2 RS - 32 Puskesmas Layani Vaksinasi Corona

Namun setelah mendapat kabar dari Palembang oleh Mayjen TNI dr. AK Gani, berita tersebut dapat di terima melalui surat dan akhirnya para laskar Kayuangung mengadakan rapat persiapan penaikan bendera Merah Putih di Masjid Al Furqon pada dini hari sebelum sholat subuh guna mengelabui Jepang.

Selanjutnya, mungkin dikarenakan umat atau jama’ah masjidnya sudah terlalu banyak sehingga kapasitas masjid tidak lagi memungkinkan untuk menampung jama’ah dari 9 marga Kayuagung, lalu dibangunlah masjid baru sekitar tahun 1913-1915, di tepian Sungai Komering tepat berdirinya pada saat ini.

“Banyak sejarah perjuangan yang tersimpan dalam mesjid Al-Furqon ini, selain sejarah perjuangan, juga menjadi tonggak cikal bakal diperingatinya Hari Jadi Kabupaten OKI, “terang Syaiful Ardand.

Berikut diceritakannya, pada saat berlangsung perang 5 hari 5 malam di Palembang, para pejuang OKI Kayuagung khususnya, menyusun rencana persiapan perang secara gerilya dan menjadikan masjid ini sebagai markas.

Baca Juga =  Tim Prokes OKU Gelar Oprsi Yustisi dan Pembagian Masker

Adapun sejumlah laksar perjuangan disebutnya yakni M. Denin Raden Bayang, LETKOL M. Nuh Matjan dan Braksan Matjan serta Haji Mekky bersama sejumlah tokoh agama dan para laskar lainnya menyusun rencana persiapan penghadangan dan perlawan terhadap pasukan Belanda.

Masjid ini diresmikan oleh Krio Muhammad Arief merupakan menantu sekaligus keponakan dari Krio Matjan Kemale Inggro gelar Krio Macan Bodok dan arsitektur pembangunan menara oleh Ahmad Yakub Raden Pati dengan catatan prasti yang masih ada saat ini bertuliskan Krio Muhammad Arief gelar Dalom Prabu yang tersimpan rapi di rumah H. Hassan Chotib, sebuah rumah limas yang masih berdiri kokoh hingga saat ini. (G.id)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.